Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Jumat, 13 Juli 2012

Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM)


By. Hendra Dhermawan Sitanggang, SKM


Berbicara mengenai kesehatan tentu tidak bisa terlepas dari kondisi lingkungan, karena lingkungan merupakan tempat hidup dan tempat manusia melakukan aktivitasnya sehari-hari, sehingga lingkungan dan kesehatan manusia memiliki kaitan yang sangat erat. Demikian juga menurut konsep L. Bloom, yang menyatakan bahwa lingkungan merupakan salah satu faktor penting yang mempengaruhi status kesehatan, selain perilaku, palayanan kesehatan, dan faktor keturunan.
Untuk itu, perhatian terhadap lingkungan merupakan hal yang mutlak untuk terus dikerjakan agar terciptanya lingkungan yang sehat guna meningkatkan status kesehatan masyarakat. Sanitasi lingkungan yang buruk secara langsung maupun tidak langsung akan menimbulkan masalah kesehatan. Misalnya dampak langsungnya adalah terkena penyakit kulit dan ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut), dan dampak tidak langsungnya  adalah misalnya saat mengambil air yang jauh dari tempat tinggalnya berisiko digigit nyamuk malaria atau yang lainnya.
Peningkatan kualitas sanitasi lingkungan merupakan salah satu langkah yang penting untuk menyelesaikan masalah kesehatan berbasis lingkungan. Hal ini sesuai dengan hasil publikasi WHO tahun 2007, yang menyatakan bahwa kejadian diare menurun 32%, dengan meningkatkan akses masyarakat terhadap sanitasi dasar, 45% dengan mencuci tangan pakai sabun, dan 39% perilaku pengelolaan air minum yang aman di rumah tangga.
Pembenahan pada lingkungan bukan merupakan perkara mudah, seperti  membalikkan telapak tangan, namun merupakan permasalahan yang rumit dan kompleks, karena selalu menghadapi tantangan, baik dari dalam  maupun dari luar masyarakat. Tantangan terbesar yang dihadapi pemerintah adalah masalah sosial budaya dan perilaku masyarakat, seperti Buang Air Besar di sembarang tempat, khususnya ke badan air yang digunakan untuk mencuci, mandi, dan kebutuhan higienis lainnya.
Dalam rangka pembenahan terhadap lingkungan, pemerintah mencanangkan strategi nasional Sanitasi total Berbasis Masyarakat, atau yang lebih dikenal dengan nama STBM. STBM adalah suatu pendekatan partisipatif yang mengajak masyarakat untuk mengalisa kondisi sanitasi mereka melalui suatu proses pemicuan, sehingga masyarakat dapat berpikir dan mengambil tindakan untuk meninggalkan kebiasaan buang air besar mereka yang masih di tempat terbuka dan sembarang tempat. Pendekatan yang dilakukan dalam STBM menyerang/menimbulkan rasa ngeri dan malu kepada masyarakat tentang kondisi lingkungannya. Melalui pendekatan ini kesadaran akan kondisi yang sangat tidak bersih dan tidak nyaman di timbulkan. Dari pendekatan ini juga ditimbulkan kesadaran bahwa sanitasi (kebisaan BAB di sembarang tempat) adalah masalah bersama karena dapat berimplikasi kepada semua masyarakat sehingga pemecahannya juga harus dilakukan dan dipecahkan secara bersama.
Program STBM ini dicanangkan pada bulan Agustus 2008 oleh Menteri Kesehatan RI dan pada bulan September 2008 STBM dikukuhkan sebagai Strategi Nasional melalui Kepmenkes No 852/Menkes/SK/IX/2008. Strategi ini menjadi acuan bagi petugas kesehatan dan instansi yang terkait dalam penyusunan perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, dan evaluasi terkait dengan sanitasi total berbasis masyarakat.
Strategi Nasional STBM memiliki indikator outcome yaitu menurunnya kejadian penyakit diare dan penyakit berbasis lingkungan lainnya yang berkaitan dengan sanitasi dan perilaku. Sedangkan indikator output-nya adalah setiap individu dan komunitas mempunyai akses terhadap sarana sanitasi dasar sehingga dapat mewujudkan komunitas yang bebas dari buang air di sembarang tempat (ODF), setiap rumahtangga telah menerapkan pengelolaan air minum dan makanan yang aman di rumah tangga, setiap rumah tangga dan sarana pelayanan umum dalam suatu komunitas (seperti sekolah, kantor, rumah makan, puskesmas, pasar, terminal) tersedia fasilitas cuci tangan (air, sabun, sarana cuci tangan), sehingga semua orang mencuci tangan dengan benar, setiap rumah tangga mengelola limbahnya dengan benar, dan setiap rumah tangga mengelola sampahnya dengan benar.
Adapun tujuan STBM adalah untuk mencegah penyakit berbasis lingkungan, memberdayakan hidup bersih dan sehat, meningkatkan kemampuan masyarakat, serta meningkatkan akses air minum dan sanitasi dasar yang berkesinambungan dalam pencapaian MDG’s tahun 2015. Program nasional STBM ini dikhususkan untuk perubahan perilaku masyarakat dengan metode pemicuan, sehingga program ini adalah program yang berbasis masyarakat, yang tidak memberikan subsidi bagi rumah tangga. Pemicuan ini dilakukan dengan pendekatan partisipatif dan analisa secara parsitipatif yang bebas dan jujur.
Dalam strategi nasional STBM, peran masyarakat menjadi sangat vital, karena masyarakat menjadi pemeran utama dalam menyelesaikan permasalahan sanitasi lingkungan. Hal ini dikarenakan masalah sanitasi lingkungan merupakan tanggung jawab masyarakat, bukan pihak lain. Selain itu, masyarakat juga berperan dalam kegiatan pemantauan dan evaluasi, yang merupakan bagian penting dalam keberhasilan sebuah program.
Beberapa hal yang membedakan program STBM dengan program-program lainnya, yaitu yang pertama, prinsip yang digunakan dalam metode STBM adalah target, bukan pada pembangunan sarana, tetapi menghilangkan “open defecation”, adanya variasi teknologi yang luas dan sedapat mungkin menggunakan material lokal sehingga sesuai jangkauan kemampuan seluruh lapisan masyarakat dan prinsip tanpa subsidi untuk meyakinkan bahwa masalah sanitasi adalah masalah masyarakat, bukan masalah pihak luar.
Yang kedua, aspek-aspek utama yang ditonjolkan dalam metode STBM adalah pemberdayaan dengan cara menimbulkan spirit dan semangat kemandirian, keterlibatan berbagai pihak dalam berbagai bentuk promosi seperti masyarakat, laki-laki, perempuan, orangtua, anak, kaya miskin, tokoh masyarakat, tokoh agama, guru, pemerintah daerah, dan NGO, aspek replikasi sebagai akibat kebanggaan masyarakat.

Yang ketiga, yaitu adanya faktor-faktor penyebab keberhasilan pendekatan STBM yaitu pendekatan dan metode yang tepat dalam upaya mengubah perilaku dengan menggunakan hal-hal yang dapat dipahami masyarakat secara langsung, peran berbagai stakeholder dalam mendukung replikasi/penyebaran, dan fleksibilitas program yang memungkinkan masyarakat berkembang secara ‘alamiah’ tanpa beban normatif seperti biaya cicilan (untuk revolving), standar jamban dan lain-lain.

Dengan menyadari kekuatan program STBM ini, kiranya memberi motivasi yang besar bagi tenaga-tenaga kesehatan dalam mensukseskan strategi nasional STBM tersebut dalam rangka menyelesaikan masalah-masalah kesehatan berbasis lingkungan, guna meningkatkan status kesehatan masyarakat. Dengan demikian permasalahan lingkungan bukan merupakan hal yang mustahil untuk diselesaikan.





Jumat, 02 Desember 2011

Indonesia Cinta Sehat

By : HDS


            Beberapa hari lalu, tepatnya tanggal 14 November kita baru saja memperingati Hari Kesehatan Nasional (HKN). Hari Kesehatan Nasional sebenarnya diperingati tanggal 12 November, namun tahun ini peringatannya dilaksanakan tanggal 14 November bersamaan dengan Hari Diabetes Nasional (HDS). Hari Kesehatan Nasional ini kita peringati setiap tahunnya pada tanggal 12 November.
Jika kita menilik ke belakang, Hari kesehatan Nasional ini diresmikan pada tahun 1964. Adapun kejadian yang mendahului terbentuknya HKN tersebut adalah berkembangnya malaria di Indonesia. Hal ini terjadi sekitar tahun 1960-an, pada saat itu malaria menjadi salah satu penyakit rakyat yang berkembang dengan cepat dan telah merenggut ratusan ribu jiwa. Berdasarkan penyelidikan dan pengalaman yang menyatakan bahwa penyakit malaria di Indonesia dapat dibasmi, maka penyelesaian masalah ini terus diperbaharui dengan membentuk Dinas Pembasmian Malaria (DPM), yang kemudian diubah menjadi Komando Operasi Pembasmian Malaria (KOPEM) Pada tahun 1963. Pembasmian malaria tersebut ditangani secara serius oleh pemerintah yang dibantu dengan USAID dan WHO. Penyakit malaria tersebut direncanakan musnah dari Indonesia Tahun 1970.
Pada akhir tahun 1963, telah dijalankan penyemprotan rumah-rumah di seluruh Jawa, Bali dan Lampung, dalam rangka pembasmian malaria dengan racun serangga DDT. Usaha itu juga dilanjutkan dengan usaha surveilans yang berhasil menurunkan ”parasite index” dengan cepat, yaitu dari 15 % menjadi hanya 2%. Kemudian pada tanggal 12 November 1964, penyemprotan nyamuk malaria dilakukan secara simbolis oleh bung Karno selaku Presiden RI, di desa Kalasan, Yogyakarta. Penyemprotan nyamuk tersebut diikuti juga dengan kegiatan pendidikan dan penyuluhan kepada mayarakat. Peristiwa itu kemudian dikenal sebagai Hari Kesehatan Nasional (HKN), yang setiap tahun terus menerus diperingati sampai sekarang. Sejak itu, HKN dijadikan momentum untuk melakukan pendidikan/penyuluhan kesehatan kepada masyarakat.
Dengan adanya Hari Kesehatan Nasional tersebut, ini menunjukkan bahwa Indonesia memandang kesehatan sebagai suatu hal yang esensial atau sebagai kebutuhan yang mendasar bagi kehidupan manusia. Dengan kata lain, Indonesia turut serta dalam mewujudkan kesehatan masyarakatnya demi terciptanya kesejahteraan. Hal ini sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia yang tercantum pembukaan UUD 1945.
            Tema Hari Kesehatan Nasional tahun ini adalah “Indonesia Cinta Sehat”. “Indonesia cinta sehat” memiliki makna yang penting dan mendalam. Indonesia cinta sehat merupakan ajakan atau motivasi sekaligus komitmen dalam mencapai Indonesia sehat. Indonesia pada kalimat “Indonesia cinta sehat” memiliki makna saya, anda, dan kita, atau dengan kata lain seluruh bangsa Indonesia, baik pemerintah maupun rakyatnya.
            Indonesia cinta sehat sebagai motivasi maksudnya adalah pemerintah mengajak/memotivasi seluruh bangsa Indonesia agar mencintai kesehatan, mau dan mampu berprilaku sehat, serta menjaga lingkungan agar tetap sehat. Hal ini juga sejalan dengan amanat Presiden untuk meningkatkan Gerakan Nasional Kebersihan Indonesia. Motivasi ini dimaksudkan agar seluruh rakyat menyadari bahwa peranan terbesar dalam menjaga menjaga kesehatannya adalah dirinya sendiri. Dengan kata lain, setiap insan mampu secara mandiri menjaga kesehatannya agar sebisa mungkin terhindar dari sakit.
            Di samping itu, pemerintah juga menekankan untuk menjaga kesehatan lingkungan, karena berdasarkan teori L. Bloom, lingkungan juga merupakan faktor utama dalam terjadinya penyakit. Menjaga kesehatan lingkungan juga dapat mencegah terjadinya bencana alam, seperti banjir, tanah longsor, dll.
            Indonesia cinta sehat sebagai komitmen maksudnya adalah pemerintah berkomitmen untuk terus miningkatkan derajat kesehatan masyarakat, melalui pembangunan yang komprehensif dan berkesinambungan, serta mengupayakan agar masyarakat mendapatkan pelayanan kesehatan yang bermutu, adil, dan merata. Di samping itu, pemerintah juga mengajak masyarakat untuk memiliki komitmen dalam menjaga kesehatannya secara mandiri. Walau bagaimanapun masyarakatlah yang memiliki peran terbesar dalam menjaga kesehatannya, sehingga penting memiliki komitmen bagi setiap masyarakat dalam menjaga kesehatan.
PHBS
            Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) adalah upaya untuk memberdayakan anggota rumah tangga agar tahu, mau, dan mampu mempraktikkan hidup bersih dan sehat, serta berperan aktif dalam gerakan kesehatan di masyarakat. Sepuluh indikator PHBS keluarga adalah :
1.      persalinan ditolong oleh tenaga keseha
2.      memberi ASI eksklusif
3.      menimbang balita setiap bulan
4.      menggunakan air bersih
5.      mencuci tangan dengan air bersih dan sabun
6.      menggunakan jamban sehat
7.      memberantas jentik dd rumah sekali seminggu
8.      makan dengan menu gizi seimbang (makan buah dan sayur setiap hari)
9.      melakukan aktifitas fisik setiap hari
10.  tidak merokok di dalam rumah.
            Adapun beberapa manfaat Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) adalah :
1.      setiap rumah tangga meningkat kesehatannya dan tidak mudah sakit
2.      rumah tangga sehat dapat meningkatkan produktivitas kerja anggota keluarga
3.      dengan meningkatnya kesehatan anggota rumah tangga, maka biaya yang tadinya dialokasikan untuk kesehatan dapat dialihkan untuk biaya intervensi, seperti biaya pendidikan dan usaha lain yang dapat meningkatkan kesejahteraan anggota rumah tangga.
            Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) bukan merupakan hal yang baru, tetapi sudah merupakan program pemerintah dari beberapa tahun yang lalu. Namun PHBS masih merupakan strategi yang tepat untuk mencapai Indonesia cinta sehat guna tercapainya visi pembangunan kesehatan, yaitu “Masyarakat Sehat yang Mandiri dan Berkeadilan”. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) juga masih merupakan perhatian pemerintah dan menjadi program prioritas, dengan memasukkan PHBS ke dalam indikator pencapaian luaran pemberdayaan masyarakat dan promo kesehatan 2010-2014.
            Untuk itu masih merupakan hal yang penting untuk melakukan penyuluhan secara terus menerus kepada masyarakat tentang PHBS, baik itu pihak Puskesmas, Rumah Sakit, maupun Dinas Kesehatan. Di samping itu, pemantauan terhadap PHBS di setiap rumah tangga secara berkala juga merupakan hal yang tidak boleh dilupakan agar dapat memastikan PHBS di setiap rumah tangga terlaksana, sekaligus menjadi bahan evaluasi terhadap progam PHBS.